Faktor Risiko Stevens-Johnson Sindrom

Syndrome Stevens-Johnson (SSJ) merupakan reaksi yang jarang ditemukan dan tidak dapat diprediksi sebelumnya. Sampai saat ini belum ada pemeriksaan yang dapat memprediksi siapa yang berisiko mengalami SJJ di kemudian hari. Namun terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya SSJ antara lain;

  • Adanya kondisi medis tertentu dalam hal ini infeksi virus, atau penyakit yang dapat menurunkan kekebalan tubuh, HIV, dan SLE karena ia dikatakan dapat meningkatkan risko terjadinya SSJ.
  • Faktor genetik. Dikatakan bahwa pembawa gen HLA-B12 lebih mudah mengalami SSJ.

Komplikasi

  • Infeksi sekunder pada kulit. Infeksi akut pada kulit ini dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa, meliputi; meningitis dan sepsis.
  • Sepsis terjadi jika bakteri memasuki aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Sepsis dapat berkembang dengan cepat dan mengancam jiwa. Kondisi ini juga dapat menyebabkan terjadinya syok dan kegagalan organ.
  • Gangguan pada mata. Ruam yang disebabkan SSJ dapat menimbulkan peradangan pada mata. Pada kasus yang ringan mata akan mengalami iritasi atau kekeringan. Sedangkan pada kasus yang berat, dapat terjadi kerusakan jaringan yang luas dan parut di dalam mata yang dapat mengakibatkan kebutaan.
  • Kerusakan pada organ dalam. SSJ dapat menyebabkan lesi pada organ dalam, misalnya; peradangan pada paru-paru (pneumonitis), jantung (miokarditis), ginjal (nefritis) dan hati (hepatitis).
  • Kerusakan kulit permanen. Setelah mengalami SSJ, kulit yang tumbuh dapat mengalami benjolan atau menjadi tidak rata atau memiliki warna yang tidak normal atau terjadi pigmentasi. Selain itu skar yang terbentuk dapat menetap pada kulit. Gangguan pada kulit yang berkelanjutan dapat menyebabkan kerontokan pada rambut, kuku juga tumbuh menjadi tidak normal.

Test dan diagnosis

leather-2719497_1280SSJ seringkali dapat diketahui hanya berdasarkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan berdasarkan gejala dan tanda khas. Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan pengambilan sampel kulit atau biopsi.

Penatalaksanaan

Penderita SSJ umumnya memerlukan perawatan di rumah sakit, baik di ICU atau di unit luka bakar. Langkah pertama dan yang paling penting dalam penatalaksanaan SSJ adalah dengan menghentikan semua obat-obatan yang mungkin menjadi penyebab. Untuk menentukan obat mana yang menyebabkan SSJ, dokter mungkin akan mengajurkan pasien menghentikan penggunaan obat-obatan yang tidak begitu penting.

Saat ini, belum ada rekomendasi standart dalam penetalaksanaan SSJ. Sebagai terapi penunjang di rumah sakit dapat diberikan; penganti cairan dan nutrisi. Karena pengelupasan kulit dapat menyebabkan hilangnya banyak cairan dari dalam tubuh, maka pengantian cairan menjadi bagian penting di dalam terapi. Pemberian cairan dan nutrisi dapat diberikan melalui NGT (Nasogastric Tube).

Perawatan kulit

Untuk mengatasi lepuhan pada pasien SSJ, dapat diberikan kompres dingin dan basah. Kulit yang mati di bersihkan dengan hati-hati dan di tutup serta di berikan salep anaestesi jika diperlukan.

Perawatan mata

Karena adanya risiko kerusakan pada mata maka di perlukan konsultasi dengan dokter mata.

Obat-obatan

Obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan SSJ antara lain; anti nyeri, anti histamin, antibiotik, steroid topikal. Selain itu dapat juga diberikan kortikosteroid intravena terutama pada dewasa. Pada anak-anak pemberian kortikosteroid intravena dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. IVIg (Imunoglobulin Intra vena), yang mengandung anti bodi yang dapat membantu sistem imune dalam menghentikan proses terjadinya SSJ.

Pencangkokan kulit

Jika SSJ mengenai daerah yang luas mungkin diperlukan pencangkokan kulit.

Pencegahan

Penggunaan obat Over The Counter (OTC), perlu kehati-hatian. Misal obat penghilang nyeri, paling banyak digunakan maksimal 3 hari. Setelah itu bila tidak ada perbaikan maka dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter (tertera dalam label obat). Ajuran seperti ini seharusnya diperhatikan oleh pasien atau orang yang menggunakan. Karena jika setiap kita sakit kemudian menggunakan obat itu, kita juga tidak tahu apakah akan menimbulkan reaksi berupa alergi obat atau tidak. Tapi yang jelas bahwa penggunaan obat OTC, juga di batasi. Jika tidak ada perubahan, hendaknya pengobatan jangan dilanjutkan melebihi aturan pakai, yang tertera dalam label.

Meski alergi obat itu presentasinya kecil, tidak mencapai 10%, tetapi harus ada kehati-hatian dalam penggunaan obat. Yang jelas ketika kita sudah pernah mengalami alergi terhadap 1 atau 2 jenis obat maka perlu kehati-hatian dalam penggunaan obat. Karena SSJ dapat mengancam nyawa Anda.

POST REPLY