Lebih Dekat Mengenal Dimensia dan Alzheimer

Pikun, seringkali dianggap enteng namun dapat membuat frustasi penderita maupun orang-orang di sekitarnya. Pikun umumnya dialami oleh mereka yang telah lanjut usia, namun tidak jarang disebabkan oleh penyakit. Beberapa kasus pikun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika hal ini telah terjadi, maka ia disebut dengan demensia. Salah satu penyebabnya adalah penyakit Alzheimer.

Perbedaan Demensia dan Alzheimer

ghost-2787609_1280 Jika demensia adalah gejala, maka Alzheimer salah satu penyakit yang menjadi penyebabnya. Demensia adalah perubahan kognitif atau menurunnya fungsi mental seseorang secara bertahap, yang bukan disebabkan oleh proses penuaan yang normal. Penderita demensia seringkali berbicara kacau, sulit berkonsentrasi, bingung saat menghadapi masalah, melakukan penilaian, perencanaan dan organisasi. Kondisi tersebut akan mengganggu kehidupan sosial dan pekerjaan sehari-hari. Padahal, sebelumnya penderita mungkin saja orang yang sangat aktif.

Demensia dapat terjadi mendadak akibat matinya sel-sel otak, misalnya karena penyakit stroke atau cedera berat pada kepala. Ia juga dapat disebabkan oleh AIDS, demam tinggi, dehidrasi, hidrosefalus, penyakit lupus, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, kekurangan vitamin, hipotiroid, tumor otak, dan Parkinson. Pada kasus tersebut, biasanya proses terjadinya demensia berlangsung lebih lambat dan bertahap.

Penderita demensia umumnya mengalami kesulitan dalam memahami orang di sekitarnya dan sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Ia menjadi sulit berkonsentrasi, dan bisa tiba-tiba lupa apa yang sedang ia kerjakan. Belum lagi timbul halusinasi, paranoid, dan delusi. Oleh karena itu, tidak jarang penderitanya mengalami frustasi dan depresi.

Demensia dapat terjadi sementara, misalnya akibat gangguan tiroid atau kekurangan vitamin. Jika kondisi ini diperbaiki, maka penderita dapat kembali normal. Namun, kebanyakan demensia bersifat permanen. Misalnya disebabkan oleh penyakit degenerasi pada otak. Salah satunya adalah Alzheimer, yang merupakan penyebab 70-80% kasus demensia. Jumlah penderita Alzheimer meningkat seiring dengan usia. Meski demikian, terjadinya Alzheimer bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Alzheimer lebih banyak mengenai wanita dibanding pria, dan orang yang memiliki kerabat dengan Alzheimer pada usia muda, memiliki risiko lebih tinggi mengalami Alzheimer di kemudian hari.

Untuk mendiagnosis Alzheimer bukanlah hal yang mudah. Diagnosis pasti Alzheimer hanya dapat ditegakkan setelah penderita meninggal, yaitu melalui otopsi jaringan otak. Selain mempengaruhi memori, Alzheimer juga akan menyebabkan perubahan mood dan perilaku. Seiring dengan waktu, gangguan kognitif yang dialami akan makin berat. Penderita juga menjadi mudah berubah emosinya, gelisah, dan bisa menjadi kasar. Bahkan, kepribadiannya juga bisa berubah.

Diagnosis Demensia dan Alzheimer

Untuk mengetahui seseorang menderita demensia atau tidak, diperlukan pemeriksaan menyeluruh terhadap riwayat kesehatan seseorang, termasuk pemeriksaan fisik dan neurologis. Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan pada orang-orang terdekat pasien. Pasien juga akan diperiksa status mental dan kemampuannya dalam mengingat. Untuk mengetahui penyebab demensia, diperlukan pemeriksaan seperti pemeriksaan darah, rontgen, MRI, PET Scan, atau CT Scan.

Yang Terjadi di Otak

Pada setiap sel otak terdapat saluran-saluran yang berfungsi untuk menyampaikan nutrisi dan informasi.  Pada demensia dan Alzheimer, saluran ini mengalami kerusakan dan terurai. Pada akhirnya sel-sel saraf akan mengalami kematian  sehingga komunikasi antar sel saraf terganggu. Bagian otak yang pertama terkena pada Alzheimer adalah hipokampus. Hipokampus merupakan bagian otak tempat diprosesnya informasi dari luar dan mengirimnya ke bagian otak yang lain untuk disimpan, termasuk memori. Inilah sebabnya penderita Demensia dan Alzheimer seringkali menanyakan hal yang sama berulang kali, karena informasi yang ada tidak dapat disimpan di otak.

POST REPLY