Perjalanan Penyakit dan Terapi Alzheimer

Setiap penderita akan mengalami perjalanan penyakit yang berbeda-beda. Gejala yang timbul mungkin tidak sama dan memiliki tingkat yang berbeda-beda.

ghost-2787609_1280Derajat 1: tidak ada gangguan (fungsi normal)

Derajat 2: penurunan kognitif yang sangat ringan (dapat karena usia atau tahap awal Alzheimer). Penderita merasakan kesulitan dalam mempertahankan memori, melupakan kata atau lokasi tertentu, namun belum ada tanda yang ditemukan pada pemeriksaan atau dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Derajat 3: penurunan kognitif ringan. Gangguan mulai dirasakan oleh orang terdekat. Pada pemeriksaan dapat ditemukan gangguan memori atau konsentrasi. Misalnya sulit menemukan nama atau kata yang tepat, sulit mengingat nama orang yang baru dikenal, sulit melakukan pekerjaan, menghilangkan benda, sulit membuat rencana atau mengatur sesuatu

Derajat 4: penurunan kognitif sedang. Pemeriksaan kesehatan menemukan gejala seperti lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berhitung, melakukan hal yang rumit, lupa akan riwayat hidupnya sendiri, mood berubah-ubah atau menarik diri dari lingkungan

Derajat 5: Penurunan kognitif sedang-berat. Terlihat adanya kesenjangan antara memori dan berpikir, mulai memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Misalnya lupa alamat atau nomer teleponnya sendiri, lupa akan nama sekolahnya dahulu, bingung ia sedang berada di mana.

Derajat 6: penurunan kognitif berat. Gangguan memori makin berat, terjadi perubahan kepribadian, dan memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari. ia tidak lagi dapat mengingat riwayatnya, melupakan nama pasangan, kesulitan dalam berpakaian, kesulitan dalam menggunakan toilet, dll.

Derajat 7: penurunan kognitif yang sangat berat. Ia tidak lagi mampu merespon lingkungan, berkomunikasi, dan mengendalikan gerakan. Tidak dapat tersenyum, duduk tanpa bantuan dan kesulitan dalam menegakkan kepala. Refleks menjadi abnormal dan otot menjadi kaku, serta terjadi gangguan dalam menelan.

Terapi

Pada demensia yang bersifat sementara, pengobatan terhadap penyebab dapat mengembalikan ingatan pasien ke kondisi semula. Misalnya pada demensia yang berkaitan dengan kekurangan vitamin, tumor, alkohol atau penyalahgunaan obat, reaksi obat, atau gangguan hormonal.

Berbeda dengan demensia, sampai saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan Alzheimer. Obat yang ada sekarang ini bertujuan untuk menghambat perkembangan penyakit Alzheimer agar berlangsung lebih lambat dan memperbaiki kualitas hidup. Terapi standar yang diberikan untuk penderita Alzheimer adalah golongan inhibitor kolinesterase dan antagonis parsial N-metil-D-aspartat. Sedangkan untuk gejala penyerta (depresi, agitasi, agresi, halusinasi, delusi, gangguan tidur) diberikan obat sesuai gejala. Beberapa obat yang digunakan adalah antidepresi, anti cemas, obat anti parkinson, beta-bloker, obat anti epilepsi (untuk mengatasi perubahan perilaku), neuroleptik. Jika penderita menunjukkan kondisi yang tidak stabil, mungkin diperlukan perawatan di rumah sakit. Terutama jika membahayakan dirinya atau orang lain.

Pada kasus Alzheimer ringan sampai sedang, dapat diberikan inhibitor kolinesterase dan latihan mental (mengisi teka teki silang atau kuis) untuk mencegah atau memperlambat kemunduran kognitif pada pasien. Meski demikian, ia tidak dapat mengatasi penyebab terjadinya degenerasi sel-sel saraf. Obat yang termasuk golongan ini antara lain Tacrine, Donepezil, Rivastigmin, dan Galantamin. Obat ini juga dapat membantu mengurangi rasa marah, perasaan ingin berkeliaran, dan perilaku yang tidak pantas.

Untuk Alzheimer sedang sampai berat, obat yang diberikan adalah golongan antagonis parsial N-metil-D-Aspartat memantadine. Obat ini akan memperlambat penumpukan kalsium dan mencegah kerusakan saraf lebih lanjut. Ia juga dapat diberikan bersama dengan inhibitor kolinesterase.

Dalam menghadapi pasien dengan demensia dan Alzheimer diperlukan kesabaran dari orang terdekat dan orang yang merawat. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kenyamanan penderita, mulai dari nyeri, lapar, haus, konstipasi, buang air kecil, adanya infeksi, atau iritasi pada kulit.
  • Hindari komentar atau argumen keras yang menentang penderita, meskipun yang dikatakannya salah atau bertentangan dengan kenyataan.
  • Alihkan perhatian pasien dan usahakan selalu bersikap suportif dengan merespon emosinya, bukan terhadap perilakunya.
  • Ciptakan suasana yang tenang, hindari suara berisik, cahaya dan ruangan yang tidak nyaman, termasuk televisi.
  • Istirahat yang cukup setiap ada kejadian yang merangsang kemarahan.
  • Perhatikan alasan di balik setiap perilaku menyimpang.
  • Jangan menganggap perilaku pasien terlalu serius, berbagi pengalaman dengan orang lain.

POST REPLY