Mata Kering Setelah Nonton Film 3 Dimensi, Wajarkah?

Masih ingatkah Anda dengan film 3D pada tahun 80an? Ingatkah Anda dengan kacamata merah-birunya? Hanya untuk menyaksikannya, saat itu orang rela merogoh kocek cukup dalam dan pergi jauh bahkan sampai ke luar kota. Beberapa tahun belakangan, film 3D kembali dengan teknologi yang lebih canggih. Tidak perlu jauh-jauh, film 3D dapat dinikmati di hampir seluruh bioskop dengan biaya terjangkau. Bahkan, saat ini telah terdapat televisi dan permainan video yang menggunakan format 3D. Dengan gambar yang begitu memukau, tidak klop rasanya menonton film animasi jika bukan dalam format 3D. Namun kemudian timbul kekuatiran mengenai efek jangka panjangnya. Adakah efeknya terhadap kesehatan mata?

Bagaimana kita melihat dalam gambaran tiga dimensi

Anda boleh tidak percaya, namun mata kita sesungguhnya melihat hanya dalam bentuk dua dimensi. Namun karena kita memiliki dua mata dan otak luar biasa yang memprosesnya, voila, maka kita dapat melihat dalam bentuk 3D. Dengan demikian, kita tidak hanya dapat melihat benda dalam bentuk aslinya, namun juga menentukan jarak dan kedalaman hanya dengan melihat. Kemampuan melihat dalam bentuk 3D ini disebut dengan stereoskopik. Konon, kemampuan ini dimiliki oleh hewan predator yang berguna untuk menentukan jarak dengan mangsanya.

Proses terjadinya stereoskopik tidaklah rumit. Di antara kedua mata, terdapat jarak yang mengakibatkan masing-masing mata memberikan gambar yang sedikit berbeda pada retina kita. Coba letakkan jari telunjuk pada hidung. Lihatlah jari tersebut dengan mata kanan dan kiri ditutup secara bergantian. Kedua gambar yang berbeda tersebut jika dilihat dengan kedua mata, akan diproses di otak dan menciptakan pola 3D. Demikian pula halnya dengan film 3D. Sesungguhnya ada 2 gambar berbeda yang bertumpukan. Hanya saja kedua gambar ini disatukan oleh media berupa kacamata, entah kacamata merah biru, atau dengan kacamata polarisasi yang lebih banyak digunakan sekarang. Walhasil, kedua gambar akan berpadu menghasilkan citra luar biasa seperti nyata.

Menimbulkan 3D Vision Syndrome

Untuk menonton film dalam bentuk 3 dimensi, diperlukan fungsi yang baik pada kemampuan mata untuk berkoordinasi, fokus, dan mendeteksi adanya gambaran 3 dimensi. Permasalahannya adalah, tidak semua orang memiliki penglihatan yang sempurna. Gangguan fokus pada mata seperti mata juling atau penyakit ambliopia (mata malas), akan mengakibatkan sesorang tidak dapat melihat gambar 3D dengan baik. Demikian pula jika terdapat gangguan fungsi penglihatan binokular, di mana kedua mata tidak dapat digerakkan dan berkoordinasi bersamaan secara efektif.

Pada orang-orang dengan gangguan mata di atas, menonton film 3D dapat menjadi aktivitas yang membuat trauma. Pasalnya, umumnya mereka akan mengalami sakit kepala, penglihatan menjadi buram, mata terasa lelah, diplopia atau penglihatan ganda, sampai pusing berputar dan mual. Hal ini dalam dunia kedokteran dikenal sebagai 3D vision syndrome. Dan ternyata, lebih dari 50% orang dewasa mengalami gangguan fungsi penglihatan binokular. Oleh karena itu, bukanlah hal yang aneh jika anda mengalami gejala di atas setelah menonton film 3D. Yang perlu dilakukan jika hal ini terjadi adalah berhenti menonton, tinggalkan teater, dan istirahatkan mata. Jangan menunggu sampai film selesai diputar.

Menonton film 3D juga perlu diwaspadai bagi penderita epilepsi yang sensitif terhadap cahaya dan mereka yang meminum obat yang dapat menurunkan ambang kejang.

POST REPLY

SUNAT ANAK NUSANTARA pelaporan