Metode Sunat, Terbaik untuk Buah Hati Anda

Ketika berbicara mengenai sirkumsisi atau sunat atau khitan. Banyak hal menarik yang bisa diambil di dalamnya. Salah satu yang sedang hangat diperbincangkan adalah mengenai manfaat sunat dalam mencegah penularan human immunodeficiency virus (HIV). Dalam beberapa penelitian sunat terbukti efektif mencegah penularan HIV terutama pada kelompok heteroseksual. Selain itu dalam beberapa literature juga disebutkan manfaat lain dari sirkumsisi termasuk diantaranya mengurangi infeksi saluran kemih pada anak, serta beberapa penyakit menular seksual lainnya.

Saat ini banyak metode sunat yang ditawarkan oleh penyedia layanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit, serta dokter praktek mulai dari electric cauterization (EC) atau dikenal sunat laser, klem sekali pakai, dan ciscular stapler. Banyaknya pilihan ini terkadang membuat  binggung orang tua metode sunat mana yang akan dipilih.

Pada dasarnya terdapat beberapa prinsip dasar yang harus ada dalam setiap teknik sirkumsisi, diantaranya asepsis, eksisi yang adekuat baik pada bagian mukosa maupun prepusium atau kulit kulup, hemostasis (menghentikan perdarahan), melindungi kepala penis dan urethra dari trauma serta hasil sunat yang indah (cosmesis). Pada dasarnya, teknik sirkumsisi dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu dorsal slit, shield dan klem serta eksisi. Kebanyakan metode sunat yang dilakukan saat ini merupakan kombinasi dari ketiga teknik tersebut.

Dorsal slit, merupakan salah satu teknik yang sudah lama digunakan praktisis sunat di Dunia. Teknik ini dilakukan melalui insisi tunggal di sepanjang ujung prepusium hingga diatas korona (pangkal kepala penis). Teknik ini dilakukan melalui anastesi local, blok saraf juga dapat dilakukan untuk membantu meringankan rasa nyeri paska tindakan sirkumsisi dilakukan. Setelah pengangkatan kulup, jahitan halus dilakukan untuk menyatukan tepi kulit di bawah kepala penis. Teknik ini tidak membutuhkan rawat inap, pasien bisa langsung pulang paska tindakan sirkumsisi dilakukan.

Shield dan klem. Metode sunat ini pertama dikenalkan melalui sebuah alat yang dinamai mogen klamp. Dalam teknik sirkumsisi ini, prepusium ditarik hingga ujung kepala penis dengan bantuan forcep kulit prepusium yang hendak hipotong disesuaikan banyaknya. Alat mogem klem kemudian di tempatkan tepat diujung kepala penis agak miring mengikuti ujung bentuk korona, lalu pengunci mogen di tempatkan. Dengan bantuan pisau atau gunting kulit kulup dipotong mengikuti bidang datang dari mogen klem. Meski tidak membutuhkan jahitan, saat ini untuk memperkuat penyatuan kulit bagian dan dalam prepusium dapat digunakan lem khusus yang biasa digunakan dalam prosedur operasi Caesar untuk menyatukan luka baru. Paska sirkumsisi dengan metode ini penis dibalut dengan perban khusus untuk pencegah terjadinya perdarahan dan mempercepat penyembuhan luka.

Teknik mogen kelm inilah yang kemudian menjadi cikal bakal teknik klem lainnya, seperti gomco klem dan disposable klem seperti halnya mahdian klem yang banyak digunakan praktisi sunat modern di Indonesia seperti halnya di Rumah Sunat dr. Mahdian atau yang dulu dikenal sebagai Rumah Sunatan. Penggunaan klem sekali pakai dianggap lebih efisien karena mampu menggurangi risiko infeksi dibandingkan klem konvensional. Tetapi tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan pasien maupun dokter.  Serta dengan hasil sirkumsisi yang indah dibandingkan teknik lain yang ada saat ini.

POST REPLY