Sunat Bersama Dokter Umum dan Dokter Spesialis Bedah

Sirkumsisi merupakan tindakan medis untuk menghilangkan sebagian atau seluruh kulit yang menutupi kepala penis dengan cara dipotong. Tindakan medis yang lebih dikenal masyarakat dengan sunat/khitan ini haruslah dilakukan oleh dokter umum ataupun dokter spesialis yang berkompeten. Meskipun begitu masih ada saja masyarakat tradisional yang mempercayakannya pada ahli sunat tradisional/ dukun sunat.

Mengapa harus dilakukan oleh dokter umum atau dokter spesialis?

Jika berbicara mengenai kompetensi, jelas sudah sunat merupakan suatu tindakan medis jadi yang berhak melakukannya adalah dokter atau yang lebih sering digunakan masyarakat adalah istilah dokter sunat. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari risiko komplikasi yang mungkin dapat terjadi, mulai dari perdarahan sampai terpotongnya penis.

Pernahkah Anda mendengar sebuah kasus penis terpotong saat melakukan sunat? Nah, hal tersebut dapat terjadi jika dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki kompetensi dan kurangnya skill. Seorang dokter umum yang akan melakukan sunat pun juga perlu mengikuti pelatihan.

Kondisi medis khusus yang tidak dapat disunat

Sunat tidak dilakukan pada kondisi medis tertentu, seperti hipospadia. Hipospadia adalah   kelainan bawaan sejak lahir dimana letak lubang kencing (uretra) pada bayi laki-laki yang tidak normal.

Pada kondisi normal, uretra berada di ujung penis, namun pada penderita hipospadia uretranya berada di bagian bawah penis. Kondisi ini tidak dapat dilakukan sunat karena dokter bedah akan membutuhkan kulupnya untuk membuat lubang kencing baru. Apabila kondisi ini tidak dapat segera ditangani, akan berdampak pada kesulitan buang air kecil atau sulitnya berhubungan seksual ketida dewasa nanti.

Selain hipospadia sunat juga tidak dapat langsung dilakukan pada orang dengan kelainan pembekuan darah atau hemofilia, trombositopenia (trombosit darah rendah) karena dapat berisiko terjadinya perdarahan hebat yang sulit dihentikan.

Oleh sebab itu, sangat penting sebelum sunat untuk berkonsultasi dengan dokter. Tindakan sunat yang dilakukan oleh dokter juga dapat meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.

Metode sunat

  1. Metode Konvensional

Sunat konvensional menggunakan pisau atau gunting bedah untuk memotong kulup. Prosedurnya sama seperti bedah pada umumnya, yakni setelah kulup dipotong maka dilakukan penjahitan di seputar kulit yang dipotong, kemudian luka ditutup dengan perban.

  1. Metode Sunat Klamp

Metode sunat klamp merupakan metode sunat yang telah direkomendasikan oleh WHO. Ada berbagai jenis metode sunat klamp, salah satunya adalah Mahdian klem. Mahdian klem merupakan klamp sunat yang diciptakan oleh anak bangsa, yaitu dr. Mahdian Nur Nasution SpBS, Penggunaan metode sunat ini sangat praktis, waktu tindakan sunat lebih cepat, pasien langsung dapat beraktivitas dan perawatannya lebih mudah. Klamp ini merupakan perangkat sunat sekali pakai dan telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan.

  1. Metode Sunat Gun Stapler

Gun stapler menggunakan alat berbentuk pistol. Cara kerjanya kepala penis dimasukkan ke dalam gun stapler. Setelah itu, pelatuk ditarik untuk menggerakkan pisau bedah, maka kulup akan terpotong.

Dokter Umum dan Dokter Spesialis Bedah 

Rumah Sunat dr. Mahdian merupakan klinik khusus sunat pertama di Indonesia. Memiliki layanan sunat untuk segala usia anak dan dewasa, layanan khitan khusus perempuan dan sunat khusus gemuk.

Sunat anak dan dewasa akan ditangani oleh dokter umum profesional, khitan khusus perempuan akan ditangani oleh tenaga medis perempuan yang profesional dan sunat khusus gemuk akan ditangani oleh dokter spesialis bedah.

Untuk tindakan sunat anak, metode yang digunakan adalah Mahdian klem, khitan perempuan menggunakan jarum khusus, sunat gemuk menggunakan metode khusus yang memungkinkan anak gemuk dapat disunat tanpa terapi hormon dan tanpa diet dan sunat dewasa menggunakan metode sunat stapler.

 

baca juga: dokter sunat berpengalaman

Informasi lebih lanjut dan melakukan pendaftaran dapat menghubungi call center kami.