Khitan Menakutkan? Kata Siapa?

Siapa sih yang gak tahu mitos tentang khitan? Biasnya mitos ini disebarkan oleh orang-orang dewasa yang tidak bertanggung jawab untuk menakut-nakuti anak, mungkin awalnya ini adalah sebuah lelucon yang lucu tapi kemudian menjadi permasalah tertentu ketika mitos ini kemudian mendarah daging pada anak-anak. Tentu saja merepotkan, bukan? Orang tua dari anak yang hendak dikhitan pasti tahu benar bagaimana repotnya ketika masuk saat di mana anak akan dikhitan, tidak jarang anak menolak dengan keras. Kalau sudah begini orang tualah yang akan dipusingkan.
Keadaan ini diperkeruh dengan keadaan klinik khitan yang rata-rata tidak bersahabat dengan anak, dengan suasana klinik yang agak muram dan yang menanganinya pun berekspresi datar. Mungkin sudah berpuluh-puluh tahun hal ini terjadi, dan belum ada yang merubah. Namun, kini hadir Rumah Sunatan yang mengubah keadaan ini sekaligus mematahkan mitos tentang khitan yang menyeramkan. Dengan metode Klamp  yang diusung Rumah Sunatan, kini proses khitan bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Klamp sendiri adalah metode sunat sudah diperkenalkan semenjak tahun 2001 di Jerman. Di Indonesia sendiri, Rumah Sunatan telah menjadi pelopor penggunaan metode Klamp ini dan sampai sekarang masih yang terdepan dalam memberikan pelayanan khitan yang cepat, aman, dan praktis.
Rumah Sunatan juga menghadirkan konsep klinik khitan yang bersahabat dengan anak, begitu masuk ke dalam Rumah Sunatan saja anak akan dibuat terperangah dengan area bermain yang lengkap dengan TV dan DVD player. Dalam hitungan detik saja anak akan langsung minta disunat di Rumah Sunatan, belum lagi ketika masuk ke ruang tindakan pun anak akan dihibur dengan wallpaper animasi yang digemari anak dan banyak permain di Ipad yang bebas mereka mainkan. Tim dokter dan perawat yang bertugas di Rumah Sunatan pun begitu ramah dengan anak, jika sudah begini anak akan merasa tenang dan khitan pun dapat berjalan lancar.
Fakta ini dibuktikan oleh testimoni beberapa anak dan orang tua yang melakukan khitan di Rumah Sunatan.
“Pengen cepet aja,” celoteh seorang anak yang sedang menunggu giliran khitan, ia sama sekali tidak merasa takut. Untuk sebagian besar anak, lebih cepat mereka dikhitan maka anak semakin baik.
Ketika ditanyakan apakah khitan di Rumah Sunatan sakit atau tidak, anak lainnya menjawab dengan sangat yakin. “Enggak, sih. Enggak sakit.”
Lalu dengan wajah polos anak itu menambahkan bahwa rasa sakitnya hanya sebatas digigit semut, tentu saja ini bukan kata khiasan tapi memang merujuk pada makna sebenarnya. Bukti bahwa Rumah Sunatan telah mampu mengubah stereotip klinik khitan yang menyeramkan juga disampai oleh salah satu orang tua yang menuturkan awal mula anak mereka yang minta dikhitan secara langsung ketika melihat Rumah Sunatan.
“Lewat di depan Rumah Sunatan terus anak saja langsung bilang ‘Mama, Mama, aku mau disunat’. Ma, tapi tanya-tanya dulu, ya.” Kenang ibu rumah tangga itu.
Selanjutnya ia menceritakan bagaimana ia dan anaknya masuk ke dalam Rumah Sunatan untuk bertanya. “Pas masuk ada ruang bermainnya, full AC, dan banyak permainannya. Ada filmnya, kan seru banget dan anak saya lompat-lompat girang karena ada Superman dan macem-macem.” Lanjut ibu berkerudung ini.
Begitu melihat bagaimana Rumah Sunatan anak langsung mintan untuk dikhitan, ketika salah satu dokter Rumah Sunatan menawarkan untuk dikhitan saat itu ibu cantik ini menolak karena suaminya yang masih berada di luar kota. Namun, keesokan harinya ia bersama suami dan anaknya langsung mendatangi Rumah Sunatan lagi untuk melaksanakan khitan.
Menurut dokter di Rumah Sunatan, yang terberat dalam melaksanakan khitan adalah menjaga psikologis anak. Jika anak sudah tenang, maka proses khitan pun akan berjalan lancar, dan cepat. Anak yang sudah terlanjut takut akan mengamuk dan berteriak-teriak, hal ini kadang menyulitkan dokter yang bertugas melakukan khitan.
Mudah dan cepatnya proses khitan yang ditunjang oleh metode Klamp pun dipandang anak sebagai hal yang menguntungkan, mereka menjelaskan proses khitan yang mereka lakukan semudah menghitung satu sampai tiga. “Mula-mulanya kayak dikasih air, dibersihin. Terusnya disuntik, digunting, udah. Pake sarung.” Wajah mereka nampak begitu riang ketika menjelaskan proses khitan yang baru saja mereka lakukan, tidak terbersit sedikit pun rasa takut atau pun trauma.
Ini merupakan indikasi bahwa apa yang Rumah Sunatan lakukan tidaklah sia-sia, buah dari dedikasi yang tinggi kepada setiap pasien khitan untuk memberikan pelayanan yang baik dan menyenangkan serta aman terwujud. Jika sudah begini siapa lagi yang berani bilang kalau khitan itu menyakitkan?
Jikalau pun orang dewasa yang tidak bertanggung jawab mengatakan itu untuk menakuti anak-anak, maka reaksi yang mereka dapatkan dari anak-anak yang mereka takuti adalah gelak tawa yang panjang.

POST REPLY