Gangguan Pendengaran dan Ketulian

Jika anda sering berkata “Apa?”, “Hah?”, dan“Kenapa?” saat bercakap-cakap dengan orang lain dengan jarak normal, waspadalah. Mungkin Anda mengalami gangguan pendengaran atau bahkan ketulian. Gangguan pendengaran, bahkan yang ringan sekalipun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama dalam berkomunikasi. Jika penyebabnya diabaikan, penderita gangguan pendengaran lama kelamaan dapat mengalami ketulian.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan ada 360 juta atau 5% orang di seluruh dunia yang mengalami kecacatan akibat gangguan pendengaran. Padahal, separuh dari gangguan pendengaran dapat dicegah. Banyak kasus gangguan pendengaran dianggap lumrah dan dibiarkan saja. Ada juga yang malu dan menyembunyikannya. Meski demikian, akhirnya ketulian seseorang menjadi rahasia publik, karena biasanya si tuli berbicara dengan suara lebih keras dibanding orang yang normal dan sering salah menanggapi suatu percakapan alis nggak nyambung.

Secara medis, gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan seseorang untuk mendengar suara dengan batas percakapan normal, yaitu 25 dB. Gangguan pendengaran dikatakan menimbulkan disabilitas jika baru dapat mendengar suara dengan intensitas lebih dari 40 dB pada dewasa, dan lebih dari 30 dB pada anak-anak.

Berat ringannya gangguan pendengaran dapat dibagi menjadi ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Yang disebut dengan ketulian biasanya adalah gangguan pendengaran yang sudah sangat berat, dengan kemampuan mendengar suara yang intensitasnya di atas 95dB, sehingga hanya dapat berkomunikasi melalui bahasa isyarat. Kondisi ini dapat mengenai satu atau kedua telinga, dan menyebabkan kesulitan dalam mendengar percakapan atau suara yang keras.

Karena berhubungan dengan telinga, maka gangguan pendengaran dan ketulian terjadi karena adanya gangguan pada penghantaran suara di dalam telinga. Mulai dari telinga bagian luar, tengah, dalam, ataupun pada saraf pendengaran dan otak.

POST REPLY

WhatsApp Image 2018-12-24 at 15.31.43