SUNAT PEREMPUAN DAN MANFAATNYA

Sunat perempuan atau khitan perempuan seringkali disalah artikan sebagai tindakan Female Genital Mutilation (FGM). FGM yaitu, menghilangkan secara total atau sebagian dari organ genitalia eksternal wanita yang dilarang oleh WHO. Padahal dalam praktiknya, sunat perempuan adalah tindakan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris. Dalam pelaksanaannya, khitan wanita dilakukan pada anak perempuan usia 0-5 tahun.

Secara teknis, penorehan tudung klitoris dilakukan menggunakan needle khusus. Karena umumnya dilakukan pada usia kurang dari 5 tahun, dengan anatomi tudung klitoris yang masih sangat tipis dan belum banyak dilalui pembuluh darah serta saraf. Tindakan ini sangat minim perdarahan dan rasa sakit. Penorehan tudung klitoris selanjutnya membuat klitoris “lebih terbuka” pada usia dewasa terkait perkembangan organ termasuk didalamnya vagina. Disisi lain kebersihan vagina terutama sekitar klitoris menjadi lebih terjaga dan terhindar dari bau yang tidak sedap.

SUNAT PEREMPUAN DALAM ISLAM

Sunat anak perempuan atau khitan perempuan termasuk tindakan yang dianjurkan dalam agama islam. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), khitan perempuan bersifat makrumah (ibadah yang dianjurkan). Tata cara pelaksanaan khitan perempuan menurut ajaran Islam adalah cukup dengan menghilangkan selaput yang menutupi klitoris.

Hal ini terkait sebuah hadis yang menceritakan sebuah diskusi antara Rasulullah SAW dengan Um ‘Atiyyah. Ia adalah dukun sunat pada zamannya. “Kecuali jika dilarang, dan Anda memerintahkan saya untuk berhenti melakukannya.” Nabi Muhammad menjawab: “Ya, diperbolehkan. Mendekatlah supaya aku bisa mengajarimu: jika memotong jangan berlebihan, karena akan membawa lebih banyak sinar ke wajah dan ini lebih menyenangkan bagi sang suami.”

SUNAT PEREMPUAN DALAM MEDIS

Sunat perempuan memiliki manfaat bagi kesehatan seperti, membuat klitoris lebih mudah dibersihkan dari kotoran. Sehingga tidak ada penumpukan kotoran atau smegma yang tergolong najis. Selain itu, membuat kebersihan vagina terutama sekitar klitoris menjadi Iebih terjaga dan terhindar dari bau yang tidak sedap.

Setiap perempuan memiliki Clitoral hoods (tudung klitoris) yang terbentuk secara genetik dengan lebar dan tebal yang berbeda. Seiring bertambahnya usia, kelemahan atau elastisitas tudung klitoris menurun sehingga tidak sedap dipandang pasangan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan membuat respon atau sensasi seksual menjadi terganggu.  pada wanita yang memiliki masalah untuk mendapatkan kepuasan seksual/ orgasme saat berhubungan intim dengan pasangannya. Bisa jadi disebabkan tudung klitoris yang terlalu tebal, besar sehingga menutupi klitoris. Hal ini selanjutnya mengurangi rangsangan yang diterima klitoris selama melakukan aktivitas seksual.

Dengan dilakuannya perlakukan pada tudung klitoris (hoodectomy), klitoris menjadi terbuka yang selanjutnya meningkatkan rangsangan seksual yang didapatkan seorang wanita untuk mencapai orgasme secara lebih mudah. Hal inilah yang menjadi latar belakang khitan perempuan. Khitan perempuan maupun hoodectomy terbukti tidak menimbulkan kerusakan saraf di sekitar klitoris, jika dilakukan oleh tenaga profesional. 

SOP SUNAT PEREMPUAN

Sesuai Permenkes 1636/2010 dalam melaksanakan sunat anak perempuan, tenaga kesehatan harus mengikuti prosedur tindakan antara lain :

  • Cuci tangan pakai sabun 
  • Menggunakan sarung tangan
  • Melakukan goresan pada kulit yang menutupi bagian depan klitoris (frenulum klitoris) dengan menggunakan ujung jarum steril sekali pakai dari sisi mukosa ke arah kulit, tanpa melukai klitoris.